Monday, January 24, 2011

Didikan Anak-Anak

Pendidikan anak dimulai dari awal pernikahan hingga hadir seorang anak dalam rumah tangga.

Anak merupakan salah satu anugerah terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kehadiran seorang anak dalam sebuah rumah tangga akan menjadi generasi penerus keturunan dari orang tuanya.

Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat pernah berkata, ''Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci (fithrah, Islam). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.''

Penjelasan ini menegaskan bahwa sesungguhnya setiap anak yang dilahirkan itu laksana sebuah kertas putih yang polos dan bersih. Ia tidak mempunyai dosa dan kesalahan serta keburukan yang membuat kertas itu menjadi hitam. Namun, karena cara mendidik orang tuanya, karakter anak bisa berwarni-warni: berperangai buruk, tidak taat kepada kedua orang tuanya, dan tidak mau berbakti kepada Allah SWT.

Dalam Alquran atau hadis Nabi Muhammad SAW, telah diterangkan tentang tata cara mendidik anak. Di antaranya adalah harus taat dan patuh kepada kedua orang tuanya, tidak menyekutukan Allah, tidak membantah perintah-Nya, tidak berbohong, dan sebagainya. [Lihat QS 9:23, 17:23, 17:24, 29:8, 31:15, 37:102, 2:83, 4:36, 6:151, 12:99, 12:100, 17:23, 17:24, 19:14, 19:32, 29:8, 31:14, 46:15].

Apabila telah dewasa, seorang anak berkewajiban untuk memberi nafkah kepada kedua orang tuanya [2:215, 30:38], anak juga berkewajiban memberikan nasihat kepada orang tua [QS 19:42, 19:43, 19:44, 19:45], mendoakannya [QS 14:41, 17:23, 17:24, 19:47, 26:86, 31:14, 71:28], serta memelihara dan merawatnya ketika mereka sudah tua [QS 17:23, 17:24, 29:8, 31:14, 31:15, 46:15].

Pendidikan anak
Berkenaan dengan cara mendidik anak ini, Abdullah Nashih Ulwan merumuskan tata cara mendidik anak dengan baik dan benar. Sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW. Secara lengkap, ia menuliskannya dalam sebuah kitab yang berjudul Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam (Pendidikan Anak Menurut Islam).

Secara umum, isi kitab ini sangat mendasar, padat, komprehensif, dan lengkap dengan petunjuk praktis dalam mendidik dan membimbing seorang anak agar menjadi anak yang saleh.

Secara lebih khusus lagi, setidaknya ada dua persoalan inti dari karya Abdullah Nashih Ulwan ini. Pertama, visinya tentang makna pendidikan. Menurut Ulwan, pendidikan bukan sekadar perlakuan tertentu yang diberikan kepada anak untuk mencapai sebuah tujuan.

Kedua, visi tentang pendidikan anak. Dalam pandangan Ulwan, setiap anak memiliki kehidupan sosial, biologis, intelektual, psikis, dan seks. Dalam kehidupan sosial, setiap anak pasti terlibat dengan berbagai pihak, seperti orang tua, guru, tema, tetangga, dan orang dewasa. Dan, anak tidak dengan sendirinya dapat berhubungan dengan berbagai pihak itu sesuai atau selaras dengan tuntunan Alquran dan sunah (Islam). Karena itulah, kata Ulwan, setiap anak memerlukan bimbingan dan nasihat agar mereka bisa berjalan dengan lurus.

Pernikahan
Dari kedua visi yang dimaksudkan Ulwan, terutama pada visi pertama mengenai pendidikan, ia memulainya dengan bab pernikahan. Tentu, ada pertanyaan besar, mengapa masalah pernikahan ditempatkan pada urutan pertama mengenai pendidikan anak dalam kitab ini?

Bagi Ulwan, pernikahan adalah awal mula terjadinya hubungan dan interaksi antara seorang suami dan istri dalam melanjutkan garis keturunan. Ulwan tidak membatasi pernikahan itu pada hubungan ragawi antara seorang pria dan wanita belaka. Ia lebih menyingkap makna pernikahan dalam rangka keberadaan atau eksistensi manusia, menyangkut kemaslahatan hidup pasangan suami istri.

Kemaslahatan hidup yang damai, indah, tenteram, dan bahagia baru bisa diwujudkan dari sebuah pernikahan. Sebab, dari pernikahan akan terjadi peningkatan tanggung jawab, baik sebagai seorang suami dan istri maupun sebagai pasangan ayah dan ibu (orang tua). Karena itulah, jelas Ulwan, sebelum menikah, seorang suami atau istri harus mencari pasangan yang berasal dari keluarga yang baik, taat beragama, kaya, dan gagah (tampan, cantik). Tujuannya agar dapat terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Sebuah pernikahan sangat berkaitan erat dengan keturunan (anak). Anak merupakan pelanjut (penerus) eksistensi sebuah keluarga. Karena itu, Islam mengajarkan pula agar sebelum menikah hendaknya dapat diketahui keluarga pasangan mempunyai keturunan yang banyak (mudah melahirkan, tidak mandul).

Abdullah Nashih Ulwan menempatkan pernikahan sebagai prasyarat untuk menyelenggarakan pendidikan anak secara Islami. Prasyarat lainnya adalah kasih sayang yang harus tercermin pada seluruh perilaku orang tua dalam berhubungan dengan anak yang sekaligus dipersepsikan oleh anak sebagai ungkapan kasih sayang dari orang tuanya.

Sejak dini
Ulwan menambahkan, prasyarat pendidikan harus dimulai sejak dini. Ketika anak masih berada dalam kandungan, seorang ibu harus rajin mengajarkan akhlak yang positif. Selanjutnya, ketika anak telah dilahirkan ke dunia, langkah awal adalah dengan dilantunkannya kalimat tauhid (azan pada telinga kanan dan iqamat di telinga kiri). Kemudian, orang tua berkewajiban untuk memberikan nama yang baik pada anak, melakukan akikah (pemotongan hewan dan rambut anak), mengkhitankannya, dan menyekolahkannya.

Hal tersebut, kata pengarang kitab ini, merupakan manifestasi dari kepedulian orang tua terhadap anak dalam mendidiknya, yang dimulai sejak dari kandungan, saat kelahiran, hingga ia mulai beranjak dewasa. Dan, pendidikan pada anak ini harus dilakukan secara simultan dan berkesinambungan, tanpa henti.


Belajar dari Kehidupan

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, ketika seorang anak telah lahir, mulai saat itulah pendidikan pada anak diberikan secara lebih intensif. Sebab, pendidikan yang kurang dari kedua orang tuanya dapat membuat anak terpengaruh dengan lingkungannya.

Mengutip kata-kata Dorothy Law Nolte, setiap anak akan belajar dari kehidupannya. Berikut pandangan Dorothy Law Nolte bila anak dibesarkan dengan berbagai sikap dari kehidupan.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.


Mengembangkan Kepribadian dan Jiwa Sosial Anak

Sebagaimana dikatakan Dorothy Law Notle, seorang anak akan senantiasa belajar dari kehidupannya. Bila kehidupannya mengajarkan sesuatu yang baik, anak pun akan turut menjadi baik. Sebaliknya, bila lingkungan dan kehidupannya mengajarkan anak perbuatan buruk, sikap dan tindakan kesehariannya pun akan buruk pula.

Dalam kitab Tarbiyah al-Awlad fi Al-Islam karya Abdullah Nashih Ulwan, pendidikan anak khususnya tentang kepribadian dan jiwa sosial anak sangat penting. Sebab, dari kepribadian dan jiwa sosialnya akan terbentuk karakter anak tersebut.

Dalam visinya tentang pendidikan anak, Ulwan membagi cara pendidikan anak dalam beberapa hal. Di antaranya adalah kehidupan biologis, intelektual, psikis, sosial, dan seks. Dalam kehidupan biologis, orang tua berkewajiban memerhatikan kesehatan mental dan jiwa anak. Anak berhak mendapatkan makanan, minuman, tempat tidur, pakaian, olahraga, dan kesegaran jasmani dari kedua orang tuanya.

Sementara itu, dalam kehidupan intelektual, orang tua berkewajiban memasukkan anak pada lembaga pendidikan (sekolah) yang sesuai dengan kemampuan anak. Anak memiliki akal sehat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (ilmu). Potensi ini memberikan dorongan kepada anak untuk mengembangkan diri dan kepribadiannya.

Dari sisi kehidupan psikis, Ulwan menyoroti sifat negatif dan positif yang sering dijumpai pada anak. Sifat negatif di antaranya malu tidak pada tempatnya, takut, rendah diri, marah, hasut, iri hati, dan lain sebagainya. Sifat negatif ini akan diimbangi oleh sifat positif, seperti rasa cinta dan kasih sayang serta keadilan.

Kehidupan sosial
Dalam kehidupan sosial, Ulwan memandang bahwa setiap anak akan terlibat dalam kehidupan pihak lain (orang tua, teman, guru, tetangga, dan masyarakat). Dan, ia sangat bergantung pada kehidupannya itu.

Dalam pandangan Ulwan, segi kehidupan sosial anak itu meliputi semangat persaudaraan, kasih sayang, toleransi, pemaaf, berpegang pada keyakinan (kebenaran), dan tanggung jawab.

Kemudian, dalam pergaulan sehari-hari, anak akan belajar kaidah kehidupan, seperti etika makan, minum, tidur, belajar, hormat pada orang tua, teman, tetangga, orang yang lebih dewasa, dan lainnya.

Yang tak kalah pentingnya dari kehidupan sosial ini adalah pendidikan seks. Menurut Ulwan, yang dimaksud pendidikan seks adalah masalah mengajarkan, memberi pengertian, dan menjelaskan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan seks, naluri, dan perkawinan pada anak sejak akalnya tumbuh dan siap memahami hal-hal di atas. Hal itu diajarkan sesuai dengan tuntunan Alquran atau sunah Rasulullah SAW.

Dalam pandangan Ulwan, ada beberapa cara dalam mengajarkan pendidikan seks pada anak. Ia membagi cara pengajaran pendidikan seks pada anak dalam beberapa tingkatan.
(1) Untuk anak berusia 7-10 tahun, anak diajari tentang sopan santun dan meminta izin masuk rumah orang lain dan santun cara memandang.
(2) Pada usia 10-11 tahun, ketika anak memasuki masa pubertas, anak harus dijauhkan dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan birahinya.
(3) Pada usia 14-16 tahun, yang disebut dengan usia remaja, anak harus diajari etika bergaul dengan lawan jenis bila ia sudah matang untuk menempuh perkawinan.
(4) Setelah melewati masa remaja, yang disebut dengan masa pemuda, anak harus diajari etika menahan diri bila ia tidak mampu kawin. Rasulullah SAW mengajarkan berpuasa.
(5) Pada usia yang sudah cukup, segeralah menikahkan anak.

Bolehkah mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini? Pertanyaan ini kerap diajukan masyarakat mengenai pendidikan seks pada anak. Mereka khawatir bila pendidikan seks diajarkan sejak dini, setiap anak akan mencoba melakukannya. Apalagi, tidak setiap saat anak berada dalam pengawasan.

Menurut Ulwan, boleh saja mengajarkan pendidikan seks pada anak sejak usia dini. Namun, harus dengan cara yang benar dan hati-hati. Menurutnya, ada pendidikan seks yang boleh diajarkan sejak dini dan ada yang tidak perlu disampaikan. Karena itu, jelas Ulwan, dibutuhkan kehati-hatian orang tua dalam mengajarkan pendidikan seks.

sila klik suara islam online

My Breastfeeding Journey

Dearie Sufyan,

Ibu mintak maaf kerana tidak dapat memberikan susu ibu untuk tempoh yang lama..hanya 2 bulan sahaja itu pun dicampur dengan susu formula. Pengalaman menjadi ibu kepada anak pertama membuatkan ibu tidak kuat menangkis kata-kata orang tua..sesungguhnya ibu kesal dan sedih kerana tidak begitu kuat mempertahankan hakmu yang Allah telah firmankan dalam Kitabnya.

[Kelmarin masa pergi shopping, aku terlupa bawakan bekal susu Sufyan.Kesian dia..kelaparan.Bile dia tengok susu adiknya (susu ibu) yang masih berbaki, perlahan Sufyan ambil botol susu adiknya lalu diteguknya..sayu dan hiba aku tengok kelakuan Sufyan, terasa air mata mahu menitik tapi aku tahan juga..Sufyan maafkan ibu..]

Walaupun hanya 2 bulan ibu berdoa agar susu yang Sufyan minum untuk tempoh tersebut menjadi darah daging Sufyan dan ketahuilah betapa ibu hanya mahu kan yang terbaik buat Sufyan.

Dearie Rujhan,

Kekesalan ibu yang lalu menjadikan ibu tekad untuk memberikan yang terbaik untuk Rujhan. Ibu berdoa agar niat murni ibu ini dibantu oleh Allah semoga ibu berjaya menyusukan Rujhan selama mungkin, sehingga 2 tahun kalau diizinkan..

[Sehingga hari ini Rujhan memang hanya minum susu ibu. Kalau hari bekerja, aku bekallkan ke rumah pengasuh dan jika tidak bekerja, Rujhan memang 100% menyusus sendiri. Alhamdulillah. Ya Allah, bantulah aku dalam niatku ini.Ameeen. Betapa aku merasakan suatu kepuasan yang tidak dapat digambarkan bila dapat menyusukan Rujhan.Apatah lagi Rujhan, mungkin perasaan gembiranya berlebih2 lagi..:)]

Cuma aku risau masa nak pergi Persidangan bulan Mac nanti.Suamiku cadangkan tinggalkan Rujhan kt umah mak mertua ku sahaja sbb mungkin susah nk bawa Rujhan yang baru 4 bulan lebih masa tu..Inilah perkara yang aku nak elak sangat2. Aku takut mak mertuaku memberikan susu formula sepertimana ia cadangkan kepada Sufyan pada usia Sufyan baru 2 hari.Masa tu aku menangis sendiri tak tau nk gambarkan betapa sedih hati aku masa tu. Takut juga kalau Rujhan diberikan makan pejal pd usia yang sepatutnya ia minum susu ibu sahaja. Aku hanya bertekad untuk memberikan makan pejal setelah usia 6 bulan.

Aku harap suami ku dapat mengikutku ke Persidangan tu dan perkara-perkara yang aku takuti tak perlu aku harungi..

Friday, January 14, 2011

Anak-Anakku Sayang..

Apa nak update dalam entry pertama tahun 2011 ni ye..ha..layan aje la gambar2 kt bawah ni.Malas nk pikir daa..:)

Rujhan
yang sedang nyenyak tido..masa ni abang dia tengah
syok main kt bilik atas dengan Opah dia
yang datang dari Batu Pahat semata2 nk dtg bermain dengan Sufyan.he he

Sufyan yang
nak makan sate sendiri
macam terer je mkn sate..
sambil tengok tv lak tu.iskh3
Rujhan masa ni da 2 bulan
susah sikit nk senyum kat orang
serious sikit rujhan ni..
haha kecik2 pun tau nk serius atau tak ye..:P
Haa..
Ini masa Rujhan tengah syok tengok tv..
Dua2 beradik sebijik macam ayah diorang..
hantu tv kot..
Ini pun tak senyum gak..
"Saya tengah berfikir nih..jgn kacau saya"..agaknye la

Abang ni nampak geram je nak cubit pipi adik tu..tak pun
cucuk mata adik atau pun bagi adik isap jari tangan..he he


Wednesday, December 22, 2010

Ceritera Ku..

Sudah agak lama aku tidak ber blog. Sejak lahirnya Rujhan yang kini telah berusia 2 bulan.Alhamdulillah kedua2 anak sihat dan Rujhan telah seberat 5.2 kg (berbanding abangnya yang hanya 4 kg pada usia yang sama). Apapun aku cuma berharap agar kedua2 anak kami membesar dengan sihat walafiat dan menjadi anak2 yang soleh yang menjadi penyejuk hati ayah dan ibu..Ameen..

Rujhan sekarang (sejak dari lahirnya) memang kuat menyusu. Hampir setiap jam dia nak menyusu dan sekirnya diizinkan Allah akan ku bekalkannya dengan susu ibu sehingga usia 2 tahun..Mudah-mudahan Allah sentiasa membantu niat ku ini..:). Hmm..2 bulan telah berlalu dan aku masih lagi bercuti menjadi suri rumah sepenuh masa. Cuti rehat yang masih berbaki aku gunakan untuk menyambung cuti sehingga akhir tahun 2010 ini.Alhamdulillah..Walaupun mungkin sebulan lebih aje aku jadi suri rumah sepenuh masa, kalut juga dibuatnye sebab penat rupanya jadi suri rumah ni ye.he he

Sufyan yang telah boleh berjalan banyak meringankan tanggungjawabku menjaga 2 anak tanpa bantuan suami (kecuali hari minggu). Kalau tidak mana aku nk dukung si Sufyan dan si adiknye Rujhan kan..hehehe. Alhamdulillah Allah permudahkanlah urusan kami sekeluarga. Cuma aku kena hadapi karenah2 Sufyan yang masih kecil yang memerlukan belaian kasih sayang dan perasaan ingin dimanjai serta karenah2 Rujhan. Pening juga kepala bile kedua2nya buat hal dalam satu masa..Rujhan menangis nak dipujuk dan Sufyan merengek nak bermain..huhuhuk

Ada juga cadangan dari suami (dan akak jiran sebelah rumah aku) supaya ambil aje pembantu rumah untuk meringankan tanggungjawab..bagi aku itu bukan suatu keperluan dan bukan juga suatu kehendak (bg aku) kerana mengambil pembantu rumah pastinya bukan mana-mana alternatif dari 20 alternatif (lain) yang ada..pelbagai berita yang menakutkan yang mengaitkan pembantu rumah (tak dinafikan mungkin ada yang bagus dan ikhlas tapi itu 1 dalam 100 kot), kes penderaan dan sebagainya antara faktor yang aku pertimbangkan. Kalau aku sebagai ibu kadang2 boleh hilang sabar dengan karenah anak2, apatah lagi orang asing yang tak ada kena mengena dengan anak2 ku..ntah apa la yang akan terjadi kan..iskh takut nk bayangkan..:P

Hmmm..nampakya anak2 masih tido, mau juga aku merehatkan badan sementara itu.hehe..lain masa lain ketika jika berkesempatan, maka akan aku cuba mengupdate blog yang hampir terbengkalai ni..:)

Tuesday, October 26, 2010

Rujhan

Ahlan Wasahlan Wa Marhaban kepada Ahmad Faqeh Rujhan..Anak ibu dan ayah yang comel..Semoga lahirmu membawa seribu hikmah..Menjadi anak yang soleh dan hamba yang taat..Ameen..

Tuesday, September 28, 2010

Sufyan Yang Setahun

Tanggal 22 September yang lalu genaplah umur Ahmad Afiq Sufyan setahun masihi atau 3 Syawal yang lalu setahun Hijri..Cepat betul rasanya masa berlalu. Padahal ku rasakan baru je sekejapan Sufyan lahir, tup tup dah genap setahun..Maha Suci Allah yang menjaga peredaran masa sedemikian..

Alhamdulillah Sufyan membesar dengan sihat dan aktif seperti anak-anak lain jugak. Gigi Sufyan sudah masuk yang ke-7 dan sudah pandai 'meniti' dari satu meja ke satu sofa..tanda-tanda Sufyan mahu belajar berjalan..:) Dengan bantuan ayah atau ibunya, Sufyan menuruti minatnya menapak anak-anak tangga umah naik dan turun dan naik lagi..huhu penat nye melayan minatnya yang satu nih..

Setahun berlalu membuatkan aku seronok mengimbau kembali keletah-keletah Sufyan yang mencuit hati tak kurang juga yang 'mencabar' kesabaran ku ini..:-( . Walaupun penat bekerja seharian, terubat juga dengan gelak2 manja Sufyan dan senyuman yang tiada dapat di cari di mana-mana..Namun kekadang manja yang berlebihan itu membuat aku terseksa jua..:P nak ke dapur susah..nak ke bilik air susah..nak mandi apatah lagi.huhuk

Seminggu ini Sufyan telah pantas tido sendiri walaupun percubaannye untuk tido sendiri mengambil masa yang agak lama dan menggugat kesabaran ini..(Sabar itu indah..:P)..Semalam dengan pelbagai caranya aku cuba pujuk Sufyan supaya tido dengan tenang, akhirnya tenang dan terlena juga diulit alunan bacaan Surah Yaasin dr handphone ku..Comel betul..Tahap kemanjaan Sufyan akan menjadi2 bile ayah nya ada..mahu tido di pangkuan atau di bahu aje atau di dada ayah nye..alahai anak ku ini..apa-apa aje.

Feveretnya mendengar muzik, maka akan tergedik2 lah tangan nya mengikut rentak muzik yang dia dengar..Ini lah agaknya minat anak-anak kecil yang lain juga..:) dan senyumannya meleret2 bile ayah dan ibu turut sama 'tergedik2'.hahaha

Namun hari lahir pertama ini ibu dan ayah tidak berkesempatan untuk menyambutnya dengan kek atau apa pun..hanya doa yang mengiring semoga Sufyan membesar sebagai anak yang Soleh, taat, bijak, etc..Ameeenn..

Monday, September 13, 2010

Raya Ke-3 Sufyan..

Selamat Hari Raya..Maaf Zahir dan Batin..

Idul Fitri 2010 ni merupakan raya ketiga bagi Sufyan. Kali pertama Raya Idul Fitri tahun 2009, di mana Sufyan lahir pada Raya Ke-3..Walaupun belum paham maksud raya, kiranya dah tiga kali aku dan suami menyambut raya bersama anak..:) Kali ke-2 Sufyan beraya Idul Adha di KB dan kali ke-3 ni, IdulFitri di BP..


Pagi-pagi lagi kitaorang dah bergambar..hehe sementara masih elok berpakaian raya..:)
Sufyan pulok yang pandang muka ibu dia bukannya nak pandang muka kamera..huhu
Yang paling ceria di pagi ni ialah..jeng3 haha korang musti buleh teka sendiri kan..:P
Ibu Sufyan bergambar macam takde perasaan je..teringat kampung sendiri le..
Apapun comel sungguh Sufyan berbaju melayu dan bersampin kan..:)
Semuanya Opah dio yang sediakan..cucu sulong katakan..


Pastu giliran Opah pulak bergambar dengan Sufyan..
Eh3..
Sufyan masih lagi takut2 dengan Opah dia..bile agaknye nak biasa ngan Opah ye..kecian gak Opah dia.hehe
Huhu..Tok Mek dia tak berkesempatan beraya dengan Sufyan tahun ni..lagi kesian..hhmmm


Lepas tu bergambar bertiga lagi..:) masa ni perut udah kenyang dengan lontong, ketupat dan rendang..Sufyan pun tumpang meratah rendang dan lontong..

Ibu dia je yang teringat mihun goreng yang selalunya tak pernah miss disediakan di Hari raya Pertama kt Kampung halaman nun jauh di sana.huhu
Agaknya tekak ni belum selesa dengan rendang dan lontong..:P

Gambar lontong dan rendang tak dapat di upload sini sebab terlupa nak snap sekeping dua..tak sempat snap laki ku dah bantai semua..hehe (gurau je!!)


Bergambar berdua lak dengan ayah dia..2 hansome men/boys..:P Baju pun sedondon..


Bergambar berdua ngan ibu lak sebelum gerak ke umah Atuk/moyang Sufyan kat BP..
Ntah pae la perasaan Sufyan ketika ni..terpinga2??teruja??tertanya2??haha..kumpul duit raya dengan anak..:P
Bile ayah dah penat drive, bagi anak lak drive..memang sesuai..:)
pon3..

(Alkisahnye raya ketiga aku dan famili dah gerak ke Putrajaya sebab Isnin da masuk keje.huhu..penat giler ni.. )